Jawa Pos

JAWA POS, KAMIS LEGI 18 FEBRUARI 1988

 

Soetanto Soepiadhy

Di Antara Orang-orang Seni dari Berbagai Disiplin Ilmu

 

Surabaya, JP

Kini sedikit orang yang belajar dan memperoleh gelar dalam disiplin ilmu tertentu yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan kesenian, akhirnya malah lebih dikenal sebagai seniman daripada gelar yang disandangnya. Di sini bisa dideretkan sejumlah nama sebagai kesaksiannya. Beberapa di antaranya ialah penyair terkenal Taufik Ismail yang dokter hewan. Asrul Sani lebih menonjol sebagai penyair, penulis skenario drama dan film daripada sebagai dokter hewan.

Amak Baljun, pemain drama yang kondang itu adalah seorang sarjana hukum. Sama halnya dengan novelis produktif Putu Wijaya. Cerpenis-novelis Trisnojuwono adalah prajurit TNI yang lebih dari 1.000 kali terjun payung. D.Zawawi Imron, penyair dari Pulau Garam, sehari-harinya adalah guru agama. Ir. Soepoyo (alm) adalah seorang pelukis. Masih banyak nama-nama lain yang bisa di pajang di sini.

image002

SOETANTO Soepiadhy

Soetanto Soepiadhy, begitulah namanya, anggota pleno Dewan Kesenian Surabaya (DKS) periode 1988-1991 adalah sarjana hukum yang kini mengajar di beberapa perguruan tinggi di Surabaya. Untuk mendeteksi sejauh mana wawasan seni yang dipunyainya, berikut ini marilah kita simak pandangan-pandangannya tentang seni budaya.

Baru-baru ini telah terbit kumpulan puisinya terbaru berjudul “bayang-bayang”. Sebelumnya telah terbit kumpulan puisinya yang berjudul “Deru-deruku”. Mengenai puisi-puisinya itu ia berucap.

“Warna lanskap dalam puisi lahir dan merupakan penjelasan tenaga yang menghubungkan diri saya dengan alam yang ada di sekitar ini. Ini semua berlangsung tanpa sengaja. Bagaimana prosesnya sulit untuk mengatakannya.”

  image004

COVER buku kumpulan puisi “Bayang-bayang”: Soetanto Soepiadhy

Soetanto juga menengarai suasana dan dampak pelantunan seni budaya dewasa ini. Katanya, ciri kebudayaan massa, ia berdimensi satu, tidak lagi menyediakan kerangka orientasi yang transendental, yakni terdesaknya potensi etis dan moral dalam menghadapi hentakan sosial, mendesakkan konformitas, dan memanipulasi jiwa kita.

Indikasi tersebut, tambahnya, sering kita temukan di dalam kehidupan keseharian kita. Ludruk misalnya, dulu sekitar sepuluh atau dua puluh tahun lalu, kesenian ini memiliki penggemar tersendiri yang cukup melimpah. Katakanlah dengan berbakiak sambil menenteng kacang bungkusan, penonton merasa senang dan terpuaskan meskipun lakonnya cuma itu-itu jua.

Kini pun, sebenarnya ludruk masih ada dan tetap dilestarikan. Tetapi sayangnya, dikemas sedemikian rupa serta dibumbui dominasi sponsor-sponsor perusahaan obat-obatan dan barang-barang kelontong lain, sehingga menyebabkan kita jadi gerah mendengarkan siarannya lewat radio. Banyolan-banyolannya juga tidak lagi segar dan merakyat seperti dulu-dulu, kelewat mengada-ada. Perlukah ini dipersalahkan? Siapa yang salah?

image006

“PERJALANAN Musafir dalam Menatap Bayang-bayang” : Soetanto Soepiadhy

Itu sekedar contoh salah satu dari sekian banyak seni tradisional kita, belum sampai pada seni yang lebih mengutamakan kadar mutu  dan serius, seperti seni lukis, sastra, musik (konser tentunya), seni drama, dan sebagainya.

Seni lukis misalnya, bertahun-tahun hidup di negeri kita. Tapi, ternyata persepsi publik masih pada tahap menonton selintas, belum menikmati secara hayati. Sehingga, tidak mustahil bila keinginan untuk membeli lukisan tidak pernah terlintas dalam angan mereka. Mereka cenderung memburu barang-barang konsumtif, seperti televisi, video, mobil, kulkas, dan sebagainya. Jumlah kolektor lukisan dari dulu tetap tidak bertambah, malah akhir-akhir ini merosot dan orang-orangnya itu-itu juga.

Apabila kita saksikan majalah sastra, katakanlah “Horizon”, “Basis”, “Tifa Sastra” terbitan Universitas Indonesia (UI), setiap penerbitannya rata-rata tidak melebihi 3.000 eksemplar. Ini pun tidak mudah terjual, berminggu-minggu nongkrong di toko buku, tidak disentuh oleh pembelinya. Negeri kita yang berpenduduk 160 juta jiwa, kata orang negeri yang mengagung-agungkan seni-budaya. Pernah suatu ketika diselenggarakan acara baca puisi di pusat kesenian yang adi luhung. Ironisnya, cuma 20 orang pengunjungnya. Agaknya puisi masih terlalu asing bagi masyarakat kita.

Ada beberapa gejala yang perlu kita teliti dan renungkan bersama. Pada hakikatnya inti dari kekuatan kultural terletak pada potensi para pencipta serta pendukungnya. Sesungguhnya mereka sudah ada dan dari waktu ke waktu terus tumbuh. Tetapi, patut diingat bahwa disela-sela pertumbuhan itu selalu terdapat kendala-kendala. Umpamanya, situasi ekonomi, petualangan-petualangan, pemerosotan, dan pendangkalan nilai-nilai.

 image008

  SOETANTO Soepiadhy

Menyinggung situasi seni budaya di kotanya, Soetanto Soepiadhy menjelaskan, tahun-tahun belakangan ini suasana berkesenian di Kota Surabaya kelihatan agak lesu. Itu tidak berarti tidak ada sama sekali. DKS sering menyelenggarakan kegiatan kesenian, entah itu pameran lukisan, pagelaran teater, diskusi sastra. Bengkel Muda Surabaya masih sering mengundang para budayawan dan seniman-seniman untuk berbicara tentang masalah seni dan budaya. Juga pusat-pusat kebudayaan asing di kota ini masih berkiprah seni. Tetapi dibandingkan dengan tahun-tahun lalu, akhir-akhir ini semakin menurun kuantitasnya. Pertanyaan klise ini selalu timbul: Mengapa publik kian menyusut dan menjauhi seni?

Saya benar-benar tersentuh oleh tulisan Ali Audah dalam Catatan Kebudayaan (Horizon XXI/225 Agustus 1986), kata Soetanto Soepiadhy. Dikatakannya, bahwa Jakarta akan disebut Kota Budaya manakala orang begitu keluar dari Stasiun Kota atau Stasiun Gambir, atau di mulut jalan Bandara Soekarno-Hatta, atau lewat di Senayan, di Senen, di sepanjang Jalan Thamrin, Jalan Jenderal Soedirman, atau di mana saja kita pandang, tampak menyambut kita monumen besar karya seniman Indonesia. Monumen-monumen itu akan menjawab pertanyaan, “Kita ini siapa?” Barangkali acuan tersebut mengingatkan kita pada kota kesayangan kita ini. Lalu, apa jawab terhadap pertanyaan tersebut?

Demikian Soetanto Soepiadhy yang sarjana hukum itu.

 Muhammad Ali

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: