Private Library

Jawa Pos, Kamis, 15 Februari 2007

 

Soetanto Soepiadhy

Dosen yang Membuka Perpustakaan Pribadi untuk Umum

Koleksi 6.000 Buku di Lemari Sepanjang 20 Meter

Oleh: MAYA APRILIANI E.S.

 

Bagi DR. Soetanto Soepiadhy, SH., MH., buku adalah jendela dunia. Tak Cuma gemar membaca dan mengoleksi buku, pakar hukum tata negara itu juga membuka perpustakaan pribadi yang bisa diakses publik.

 

 image002

 SOETANTO Soepiadhy Private Library (SSPL)

 RUMAH di kawasan Semolowaru Elok Blok M itu punya ciri khas kuat. Di bagian depannya ada papan kayu berukuran besar. Tuliisannya jelas: Soetanto Soepiadhy Private Library.

 

 image004

Memang, bagi Soetanto Soepiadhy, rumah yang didiami tidak sekedar tempat tinggal. Di situ ada perpustakaan pribadi. Ribuan koleksi buku, mulai bidang hukum, sastra, ekonomi, sosial, dan politik, tersimpan rapi.

Buku-buku tersebut ditata dalam delapan almari. Tak heran, setiap tamu yang bertandang ke rumah Daddy, panggilan akrab Soetanto Soepiadhy, pasti disambut pemandangan jajaran buku yang menjulur dari ruang tamu hingga ruang tengah. “Jika dihitung panjang ruangan ini, almari buku saya mencapai 20 meter. Jumlah bukunya lebih dari 6.000,” kata pria kelahiran Gresik tersebut.

Dulu, buku-buku disimpan di dalam ruangan khusus. Luasnya 8 x 6 meter persegi. Tapi, seiring bertambahnya koleksi Daddy, ruangan tersebut tak lagi digunakan. “Sebab, semakin terasa sempit,” katanya.

Sekarang, ruangan “bersejarah” tersebut telah beralih fungsi. Ruang “kecil” itu hanya digunakan untuk mengerjakan tugas. Semua buku sudah dipindah ke ruang depan. Di ruangan baru tersebut, Soetanto menyediakan beberapa piranti mengetik. Ada dua komputer, satu mesin ketik manual, satu mesin ketik elektrik, laptop, dan sebuah printer plus kertas. “Supaya memudahkan pengunjung atau mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas,” ungkap pria yang lahir dalam kisaran rasi Taurus ini.

Ensiklopedia Rusak Ditelan Banjir

Ya, meskipun perpustakaan tersebut “bernama” private librrary (perpustakaan pribadi, Red), Daddy tak hendak memiliki sendiri koleksi buku yang ada di dalamnya. Aliih-alih menyimpan rapat-rapat buku tersebut, Daddy justru membuka lebar pintu perpustakaannya. Semua orang boleh melihat dan membaca bukunya.

 image006

 SOETANTO Soepiadhy ditengah-tengah perpustakaan pribadinya

 Kecintaan Daddy terhadap buku mulai menggelora ketika dia diwarisi buku oleh ayahnya. Ketika R.K.Ng. Soepiadhy, ayah Daddy, meninggal, sulung dari lima bersaudara itu masih SMA. “Buku yang diwariskan ayah banyak. Panjangnya satu meter. Nah, sejak mendapat buku itu, saya juga mulai rajin mengumpulkan buku-buku tokoh dunia,” kata Daddy.

Menurut Daddy, buku-buku warisan sang ayah itu memang memicu dia untuk terus memperbanyak koleksi. Namun sejak kecil, pria yang mengambil jurusan Hukum Tata Negara di Universitas 17 Agustus 1945, sejak kecil memang sudah senang membaca. Sampai saat ini pun, kegemarannya membaca masih terus dia jaga. Setiap hari, dosen pascasarjana di beberapa perguruan tinggi di Indonesia itu membaca buku selama dua jam. “Jika pergi ke luar kota pun, saya selalu membaca buku,” kata Ketua Umum Lembaga X-ist (Eksponen Inginkan Semua Tertib) tersebut.

  image007

DEMO X-ist di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Surabaya, 17 April 2007.

 Kata Daddy, jika tidak senang membaca, orang pasti tidak akan tahu perkembangan zaman. “Bisa ketinggalan sepur (kereta api, Red). Sebab buku adalah jendela dunia,” katanya.

Kegemaran itu akhirnya membawa Daddy pada suatu keinginan untuk mendirikan perpustakaan pribadi. Awal 1986, tempat baca milik penggemar tokoh Anoman tersebut mulai dibuka. “Ya, sejak pindah ke rumah ini, sebagian buku saya boyong,” ungkapnya.

Dulu, sebelum perpustakaan itu ada, kitab milik pria yang mahir bermain drama itu disimpan di berbagai tempat. Ada yang ditaruh di rumah orang tuanya, dan di rumah-adik-adiknya. “Karena belum memiliki almari, buku-buku itu disimpan di dalam kardus,” kata doktor dengan disertasi Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Prospek Perkembangan Demokrasi itu.

Nah, setelah perpustakaan itu jadi, Daddy pun menegaskan niatnya membuka tempat baca untuk umum. Yang pertama dia pikirkan adalah para mahasiswanya. “Sebab, perpustakaan di universitas sering tidak lengkap,” ungkap dia.

Sekitar dua puluh tahun lalu, Daddy pun mulai “mengumumkan” perpustakaannya kepada khalayak. Dia memasang papan nama di depan rumahnya. Selain itu, dia pun menyebarkan kartu nama yang juga beirsi informasi perpustakaan tersebut.

Woro-woro itu pun mujarab. Tiap hari, rata-rata 5-10 orang mengunjungi perpustakaan itu. Sebagian adalah mahasiswa pascasarjana yang dia ajar. Beberapa lagi adalah teman seprofesinya. Bahkan, tak jarang ada orang luar negeri yang mengunjungi perpustakaan tersebut. Misalnya, ketika Prof. Dr. Budi Darma, sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membawa rekannya dari Jerman.

   image009

 DARI kiri ke kanan: Prof. Dr. Budi Darma, MA; Dr. Soetanto Soepiadhy, SH., MH; Prof. Dr. Hotman Siahaan; dan Gatut Kusumo

 Memang, pengunjung terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa. Sebab, tak cuma mendapat bacaan gratis, para mahasiswa tersebut kerap mendapatkan wawasan dan tambahan ilmu dari Daddy. Sebab, di perpustakaan itu, Daddy menerapkan prinsip keterbukaan dan kepercayaan. Itulah yang mengakrabkan dia dengan para pengunjung perpustakaannya. Saking dekatnya itulah, semua orang memanggil Soetanto Soepiadhy dengan sebutan Daddy (ayah, Red). “Sebab, kata mereka saya bisa memecahkan segala permasalahan,” kata pria yang akan menerbitkan bukunya yang ke tujuh belas pada bulan ini tersebut.

Dan memang, Daddy tak hanya menyediakan buku. Dia pun menyiapkan berbagai fasilitas yang bisa digunakan oleh para pengunjung perpustakaan itu. Misalnya, alat-alat tulis dan printer. Tentu ada latar belakang yang membuat Daddy begitu “royal” terhadap para pengunjung perpustakaannya. “Sebab, saya tidak bisa memberi apa-apa. Membiayai pendidikan mereka juga tidak bisa. Untunglah ada teman-teman yang membantu. Kadang-kadang, mereka membelikan kertas juga,” kata penerima Presidential Award for Recruitment dari Junior Chamber International (Amerika) tersebut.

Mengoleksi buku dan mendirikan perpustakaan pribadi, menurut Daddy, sangat tidak mudah. “Bisa saja orang membeli buku banyak. Tapi jika hobinya tidak di situ, ya susah,” ujarnya. Terlebih, jika orang tidak bisa merawat buku dengan baik. Maka, buku yang dimilki menjadi sia-sia dan tidak ada artinya.

Karena itulah Daddy menerapkan aturan ketat di perpustakaan itu. Dan selalu mewanti-wanti kepada pengunjung untuk mengembalikan buku ke tempat semula. Selain itu, buku tersebut tak boleh ditekuk ujungnya. “Saya sudah menyiapkan pembatas buku. Lalu, buku di sini tidak boleh dibawa pulang. Sebab, setiap judul buku hanya ada satu,” kata penggemar bola voli dan sepak bola tersebut.

Tak cuma itu, Daddy punya tips khusus untuk menjaga agar koleksinya tetap utuh dan rapi. Di rak buku tersebut selalu ditaruh kapur barus dan merica. Tujuannya, agar kertas tidak lembab. Daddy pun menyimpan buku-buku di plastik supaya tidak rusak.

  image011

SOETANTO Soepiadhy pakai kaos oranye sebagai penjaga gawang

 Meski begitu, ada kejadian-kejadian yang membuat koleksi Daddy rusak dan berkurang. “Dua tahun lalu, di sini banjir,” kata Ketua Umum Yayasan Kebudayaan Indonesia itu. Sebenarnya, air yang masuk tak terlalu banyak. Namun, sialnya, Daddy sedang menata buku. Sebagian koleksinya ditaruh begitu saja di lantai. Akibatnya, airpun menerjang tumpukan buku itu. “Saya sampai teriak-teriak,” tambahnya.

  image013

SOETANTO Soepiadhy

 Akibatnya bisa diduga. Sebagian buku itu rusak berat. Tak tanggung-tanggung, yang kena air ini adalah koleksi yang termasuk paling mahal. Grolier Academic Encyclopedia rusak separo. Lalu Encyclopedia International rusak hampir sepertiga,” ujarnya. Padahal, buku tersebut tak bisa dibeli satu per satu. “Harus lengkap, A sampai Z,” kata dia.

Karena harganya mahal, Daddy pun tak bisa melengkapi koleksi tersebut. “Dulu, tahun 1988, saya mencicil Rp. 121 ribu tiap bulan selama setahun untuk melengkapi koleksi masing-masing ensiklopedia itu,” kata pria yang pernah mengarang lagu untuk group SAS dan Boomerang tersebut.

Apa pun, Daddy tak surut langkah dalam mengoleksi buku. Dia terus-menerus berupaya melengkapi koleksinya. Setiap pekan, dia punya jadwal pergi ke toko buku. “Ruang tamu ini nanti juga akan dipenuhi buku. Karena masih ada buku di ruangan lain yang menumpuk. Saya masih pesan almarinya,” kata pria yang sudah menelorkan lima buku antologi puisi tersebut.

Setiap bulan, dia menyediakan anggaran Rp. 800 ribu hingga Rp. 1 juta khusus untuk buku. “Setiap ke toko buku, saya patok budget Ro. 200 ribu,” ucap pria berkacamata tersebut.

Ke depan, Daddy ingin agar perpustakaan pribadinya tetap ada. Diteruskan anak-anak dan cucunya kelak. “Biar rumah ini digunakan sebagai rumah perpustakaan. Lagi pula, saya bangga perpustakaan ini sudah melahirkan begitu banyak sarjana, master, dan doktor,” ungkap dia. (*)

 

 

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: