SAS Larantuka

14 March 2008

 

Soetanto Soepiadhy, SAS, Larantuka 

 Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

 

 

image002LARANTUKA

Lagu: Arthur Kaunang

Syair: Soetanto Soepiadhy

Oh … oh Larantuka  oh … oh Larantuka

Di ujung timur Flores ada bencana gempa

Tanah gerak  bumi bergoyang retak

Oh … oh Larantuka

Derita hamba Tuhan dalam kesengsaraan

manusia di hamparan musibah

Oh … oh Larantuka  oh … oh Larantuka

 

 

Anda penggemar musik rock tanah air? Aha, anda tentu pernah dengar, mungkin hafal, lagu ini. Pada 1980-an lagu ini sangat terkenal. Bahkan, sampai hari ini pun grup-grup band anak muda di Jawa Timur masih memainkannya. Syair LARANTUKA yang sangat empati kemanusiaan ditulis oleh Soetanto Soepiadhy.

  image005image006

 FOTO atas: Soetanto Soepiadhy tengah memimpin/sebagai dirigen (conductor) paduan suara (foto bawah)

 Bung Tanto dulunya seniman, penggerak teater, suka menulis puisi, pernah jadi pelatih dan dirigen (conductor) paduan suara. Seniman komplet lah. Sejak 2005, Soetanto Soepiadhy lebih dikenal sebagai doktor hukum tata negara. Bung Tanto juga aktif menulis buku. Dan, sejak 2007 dia getol memperjuangkan hadirnya calon independen dalam pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati, dan wali kota) hingga pemilihan presiden.

 “Saya akan terus berjuang bersama teman-teman, dan insya Allah, gol,” ujar DR. Soetanto Soepiadhy, SH., MH. kepada saya di Surabaya, Jumat, 14 Maret 2008. Namanya juga seniman, meski sudah jadi dosen senior, pakar hukum tata negara di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (lazim disingkat Untag), Bung Tanto enak diajak bicara.

 Obrolan kami mengalir, apalagi saya fokus ke lagu Larantuka yang dipopulerkan oleh SAS Grup pada 1980-an. Saya memang dari Flores Timur, kabupaten dengan ibukota Larantuka. Saya masih kecil ketika bencana dahsyat itu terjadi, namun masih belum lupa efek bencana tersebut. Gempa bumi dahsyat menewaskan ribuan orang.

 Larantuka sebuah kota tua di ujung timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejak abad ke-16 menjadi kota pelabuhan yang dibina para pedagang dan misionaris Portugal. Larantuka juga dikenal sebagai pusat misi Katolik mula-mula di Indonesia. Yoseph Yapi Taum, dosen Universitas Sanata Dharma, Jogyakarta, menuliis:

 “Tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka, ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan pendudud Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur, kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik.”

 Banyak lagi catatan-catatan sejarah tentang Larantuka alias Nagi alias Kota Reinha Rosari, kata penduduk setempat. Tapi di balik sejarahnya yang panjang, Larantuka beberapa kali diguncang bencana hebat. Pada 27 Februari 1979 terjadi banjir bandang. Seluruh kota itu habis diluberi banjir lumpur dari Gunung (Ile) Mandiri. Saya ingat karena kebetulan ada lagu yang sangat terkenal di sana untuk mengenang bencana tersebut:

 “Dua tujuh malam Rabu,

Februari bulan itu,

Tujuh sembilan yang kelabu

Tak dapat kulupakan

 Lumpur batu yang mengganas

Tak berperi dan berbelas

Merenggut harta korban jiwa

Tak dapat kulukiskan …”

 Beberapa tahun kemudian, kalau tak salah 1983, terjadi gempa bumi mencapai 6 Skala Richter. Kembali ribuan penduduk meninggal dunia. Rumah-rumah habis. Berantakan. Nah, saat itulah Soetanto Soepiadhy, seniman arek Suroboyo, menulis syair berjudul LARANTUKA.

 “Saya ikut merasakan penderitaan warga Larantuka pada saat itu. Makanya, saya menulis syair itu,” papar Bung Tanto yang baru saja meriliis buku berjudul “DR. Soetanto Soepiadhy, SH., MH. Meredesain Konstitusi: Pembangkangan Seorang Anak Bangsa untuk Demokrasi”.

 image008

 COVER buku Dr. Soetanto Soepiadhy, SH., MH. (buku ke 18).

 Bung Tanto waktu itu sangat dekat dengan para seniman. Gondrong rambutnya. Bergerak melawan penguasa yang sewenang-wenang, kritik sosial, lewat jalur kesenian. Dia kemudian menawarkan syair itu kepada Arthur Kaunang, basis dan pemimpin SAS Group. Arthur setuju, dan LARANTUKA menjadi lagu andalan, sekaligus judul album SAS. Lagu ini meledak, dimainkan di mana-mana.

  image010

 SOETANTO Soepiadhy

 Artinya, Soetanto Soepiadhy secara efektif memperkenalkan Larantuka, di ujung timur Flores, ke seluruh Indonesia. Setiap kali SAS (Sunatha Tanjung, Arthur Kaunang, Syekh Abidin) manggung, lagu LARANTUKA selalu dibawakan. Bahkan, pada awal 2005, lagu ini dibawakan lagi di Surabaya, guna penggalangan dana untuk korban gempa bumi dan tsunami Aceh, Sumatera Utara. Arthur Kaunang bersama grup Boomerang, juga asal Surabaya, mengganti kata LARANTUKA dengan NANGGROE ACEH.

 Soetanto Soepiadhy ini ternyata selalu bekerja sama dengan SAS untuk urusan penulisan lirik. Jangan heran di album-album SAS selalu tertulis kata-kata: “Terima kasih kepada Saudara Soetanto Soepiadhy yang sudah menulis lirik-lirik lagu di album ini”. “Saya memang tidak bisa dipisahkan dari SAS,” kata Soetanto Soepiadhy yang piawai berceramah ini.

 Berapa banyak lagu-lagu SAS yang melibatkan anda sebagai penulis lirik?

 “Wah, banyak sekali. Saya sampai lupa. Kalau nggak salah lebih ada sembilan album. Album Kasmaran, 1979; album Laila, 1979; album SAS, 1980; album Indonesia, 1980; album Sansekerta, 1981; album Ilusi, 1982; album Larantuka, 1983; album Rudal, 1984; dan album Sirkuit, 1988. Banyak sekali lah,” ujar Soetanto Soepiadhy.

 image012

  SALAH satu cover SAS Group

 Kerja sama semacam ini sangat menguntungkan band-band rock masa lalu. Musik bagus, lirik tidak kacangan. Sebagai penyair dan budayawan, Soetanto Soepiadhy mengangkat berbagai fenomena kehidupan ke dalam syair lagu. SAS-lah yang memopulerkan lagu itu ke masyarakat.

 Saya akui, bobot syair SAS Group memang sangat tinggi. Tidak melulu berisi jatuh cinta ala remaja, naksir sana-sini, ala band-band tahun 2000-an. Simak saja lirik SANSEKERTA karya Soetanto Soepiadhy di album SAS berjudul sama:

 Ingin kusunting kelam senja

di antara serpih kata

Bertaut asmara birahi sansekerta

di mana adanya

Penghantar gejolak bahana

merambat di arcapada

Naik suralaya dibuai senja kala

oh sansekerta

 Bidadari turun dari suralaya sansekerta

Bidadari pelepas hasrat gejolak rasa

 Dekaplah untaian asmara

jangan lewatkan jua

Desir bayu bajra

hempas ombak samudra

oh sansekerta

 

Wah, wah … mana ada lirik lagu pop Indonesia macam itu sekarang?

 Gara-gara sering mengangkat fenomena sosial, beberapa lagu (yang liriknya ditulis Bung Tanto dicekal oleh penguasa Orde Baru. Kita tahu Presiden Soeharto waktu itu tidak suka suara-suara kritis. Orang-orang kritis macam Bung Tanto dianggap antipembangunan, antipemerintah, dan seterusnya. “Saya masih ingat lagu saya, SUMINAH, dicekal pemerintah,” tuturnya lalu tertawa kecil.

 Soetanto Soepiadhy menggambarkan Suminah sebagai orang desa yang bekerja di Jakarta. Bukannya sukses, perempuan itu terlunta-lunta di kota. Lagu ini dianggap memperuncing kesenjangan sosial. Rakyat jelata, miskin, bisa mengamuk dan bikin kerusuhan. “Tapi saya menikmati masa-masa genting tersebut,” ujar pembelajar sejati ini. (Bung Tanto kuliah strata satu Sastra, kemudian S1, S2, dan S3 Hukum).

 Kini, Bung Tanto bukan lagi penulis lirik, seniman gondrong, atau tokoh yang diwaspadai penguasa. Sebagai akademisi, ia berjuang lewat jalur intelektual untuk mewujudkan daulat rakyat. Ia juga kritik reformasi yang masih tanggung. “Reformasi yang berlangsung selama ini belum menyentuh persoalan bangsa yang paling hakiki. Pancasila tak lebih sebuah slogan,” tuturnya.

 Dimana-mana pejuang sejati tak pernah mati. Caranya saja berbeda, disesuaikan dengan tuntutan zaman. Bung Tanto, terima kasih untu lagu LARANTUKA yang fenomenal itu. Maju terus, Bung! (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: